Rabu, 31 Desember 2008

p e n g g a r i s

kebiasaan kami sekeluarga adalah pergi ke toko buku. ninda minta dibelikan penggaris. gambar kucing, warna kuning, tentu itu hanya tambahan setelah dia memilih novel. dalam perjalanan pulang, ninda dan dama tertidur di mobil.
esok paginya, ninda tampak mencari-cari penggaris yang semalam dibelinya. penggaris itu nggak ada. entah dimana. dia tanya pada semua orang seisi rumah, mereka tidak ada yang melihatnya. berhari-hari ninda terus mencari tapi juga tidak ketemu penggaris itu. tak terasa sudah 5 hari penggaris itu hilang. ninda tetap mencarinya. malam itu ninda masih mencari penggarisnya. aku kasihan melihatnya. tiba-tiba dia mengambil sebuah buku. "bundil, aku mau nulis"katanya padaku. dia menulis sesuatu di sana. beberapa saat kemudian, ninda menghampiriku dan memperlihatkan apa yang ditulisnya. dia menulis sebuah puisi. puisi itu berjudul “kesedihan”. selesai aku baca, ninda bertanya, “bagus bundil?”. “bagus sekali” jawabku sambil memeluknya. merasakan kesedihannya.
paginya, aku mencoba mencari di dalam mobil, siapa tau terjatuh pikirku. ehh…ketemu..!!! penggaris itu ada...!!. begitu aku berikan pada ninda, aku bisa melihat raut mukanya yang sangat senang, sambil memelukku.

dan...kata pertama kali yang keluar “ketemu dimana, bundil???”.


kesedihan


aku mencarimu tiada henti
namun kau juga tak kunjung kemari
kau tetap diam tak bergerak
walau saat itu bumi tidaklah serak

kuteliti disana sini

namun kau juga tak menampakkan diri
penggaris bergambar kucing lucu

akan kukenang selalu

walau orang tak memikirkanmu
mereka terus makan dan makan
tak lama aku menangis
walaupun itu hanya penggaris

(puisi ditulis oleh ninda)